DelapanTour.com – Chennai, India, penerbangan Malaysia Airlines rute Chennai–Kuala Lumpur mengalami gangguan teknis akibat pasokan oksigen yang tidak mencukupi. Insiden tersebut membuat 78 penumpang gagal berangkat menggunakan penerbangan sesuai jadwal pada Senin (12/10/2026).
Penerbangan bernomor MH181 itu semula dijadwalkan berangkat pada Minggu (11/10/2026) pukul 23.55 waktu setempat. Namun, pesawat baru lepas landas pada Senin pukul 02.20 dengan membawa 100 penumpang dari total 178 penumpang yang telah merencanakan perjalanan.
Menurut laporan Times of India yang dikutip detikTravel pada Kamis (15/10/2026), masalah pasokan oksigen muncul menjelang keberangkatan. Kondisi tersebut memicu pemeriksaan teknis dan pembatasan jumlah penumpang demi menjaga keselamatan penerbangan. [Sumber: detikTravel dan Times of India]
Penerbangan Malaysia Airlines Mengalami Gangguan Teknis
Awalnya, Malaysia Airlines menjadwalkan MH181 untuk mengangkut 178 penumpang dari Bandara Internasional Chennai menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Akan tetapi, pemeriksaan sebelum keberangkatan menemukan persoalan pada sistem pasokan oksigen pesawat.
Pilot kemudian berkonsultasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah yang aman. Setelah pembahasan teknis, pihak maskapai memutuskan hanya mengangkut 100 penumpang dalam penerbangan tersebut.
Akibat keputusan itu, sebanyak 78 penumpang tidak dapat mengikuti penerbangan sesuai rencana awal. Sementara itu, pesawat akhirnya meninggalkan Chennai pada pukul 02.20, atau lebih dari dua jam setelah jadwal semula.
Di sisi lain, Malaysia Airlines tidak langsung memberikan penjelasan resmi secara terperinci mengenai penyebab gangguan tersebut. Namun, pakar penerbangan Capt. Mohan Ranganathan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kaitan masalah itu dengan sistem oksigen darurat pesawat.
Pakar Menjelaskan Pentingnya Sistem Oksigen Darurat
Menurut Capt. Mohan Ranganathan, sistem oksigen darurat pesawat menggunakan generator kimia untuk menghasilkan oksigen ketika penumpang menarik masker oksigen saat keadaan darurat. Sistem tersebut membantu penumpang bernapas ketika tekanan kabin mengalami penurunan.
Ia menjelaskan bahwa maskapai dapat menyatakan kursi tertentu tidak layak digunakan apabila generator oksigen kimia tidak berfungsi. Kondisi itu mungkin menjelaskan alasan maskapai membatasi jumlah penumpang dalam penerbangan MH181.
Meski begitu, penjelasan tersebut merupakan pendapat pakar penerbangan, bukan konfirmasi resmi mengenai penyebab teknis dari Malaysia Airlines. Karena itu, penyebab pasti gangguan perlu merujuk pada hasil pemeriksaan teknis dan keterangan resmi pihak terkait.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya pemeriksaan keselamatan sebelum pesawat mengangkut penumpang. Selain memeriksa mesin dan sistem navigasi, petugas juga perlu memastikan perangkat keselamatan darurat memenuhi persyaratan operasional.
Penumpang Mengeluhkan Keterlambatan dan Minimnya Informasi
Gangguan penerbangan tersebut memicu keluhan dari penumpang yang tertahan di Bandara Chennai. Salah seorang penumpang menyampaikan pengalamannya melalui media sosial X dan mengaku menunggu lebih dari enam jam tanpa memperoleh penjelasan yang memadai.
Penumpang itu juga mengeluhkan kurangnya informasi mengenai jadwal keberangkatan. Selain itu, ia menyatakan bahwa para penumpang tidak memperoleh air minum selama menunggu, sebagaimana tertuang dalam laporan yang dikutip media.
Situasi tersebut menambah ketidakpastian bagi penumpang, terutama mereka yang memiliki penerbangan lanjutan atau jadwal perjalanan lain di Kuala Lumpur. Akibatnya, perubahan mendadak pada jadwal keberangkatan berpotensi mengganggu seluruh rangkaian perjalanan mereka.
Malaysia Airlines kemudian menanggapi keluhan tersebut melalui media sosial. Maskapai menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan panjang, ketidakpastian pengaturan perjalanan, serta kurangnya informasi tepat waktu selama gangguan berlangsung.
Maskapai juga mengakui bahwa situasi tersebut menimbulkan kesulitan bagi penumpang, khususnya mereka yang perlu mengejar penerbangan lanjutan. Namun, penjelasan publik yang tersedia belum menguraikan seluruh detail teknis terkait masalah pasokan oksigen.
Malaysia Airlines Menyiapkan Penerbangan Alternatif
Untuk membantu penumpang yang tertinggal, pihak terkait di Bandara Chennai mengatur penerbangan alternatif menuju Kuala Lumpur. Laporan media setempat menyebut penumpang yang terdampak kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan penerbangan Malaysia Airlines dan AirAsia.
Langkah tersebut membantu penumpang melanjutkan perjalanan meskipun mereka tidak dapat berangkat menggunakan MH181 sesuai jadwal awal. Sementara itu, proses pengaturan ulang perjalanan tetap menjadi tantangan bagi penumpang yang memiliki agenda lanjutan.
Kejadian ini juga menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas ketika maskapai menghadapi gangguan operasional. Informasi mengenai penyebab keterlambatan, perkiraan waktu keberangkatan, serta pilihan penerbangan pengganti dapat membantu penumpang mengambil keputusan dengan lebih baik.
Selain itu, penumpang yang menghadapi gangguan serupa sebaiknya menyimpan tiket, bukti pemesanan, dan pemberitahuan resmi dari maskapai. Dokumen tersebut dapat membantu ketika mereka mengajukan permintaan pengaturan ulang perjalanan atau menanyakan hak atas bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.
Keselamatan Penerbangan Menjadi Prioritas
Gangguan pada MH181 memperlihatkan bahwa persoalan teknis dapat memengaruhi jadwal penerbangan sekaligus rencana perjalanan banyak orang. Namun, keputusan untuk membatasi jumlah penumpang menunjukkan pentingnya mempertimbangkan aspek keselamatan sebelum pesawat lepas landas.
Di sisi lain, maskapai perlu menangani dampak gangguan secara menyeluruh. Pemeriksaan teknis harus berjalan seiring dengan komunikasi yang cepat, pelayanan kepada penumpang, dan pengaturan perjalanan alternatif.
Bagi wisatawan yang melakukan perjalanan internasional, kejadian ini menjadi pengingat untuk mempersiapkan waktu cadangan, terutama jika mereka memiliki penerbangan lanjutan. Wisatawan juga sebaiknya memantau pemberitahuan resmi maskapai dan memastikan nomor kontak pada pemesanan tetap aktif.
Pada akhirnya, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam operasional penerbangan. Sementara itu, penanganan penumpang yang terdampak juga memerlukan informasi transparan dan solusi perjalanan yang jelas agar gangguan teknis tidak menimbulkan ketidakpastian berkepanjangan.
Sumber informasi: detikTravel, Times of India, dan laporan media mengenai gangguan penerbangan Malaysia Airlines MH181 di Chennai pada 11–12 Oktober 2026.



