DelapanTour.com – Korea Selatan, tren wisatawan Korea Selatan pada 2027 menunjukkan bahwa keinginan untuk berlibur tetap tinggi. Namun, para pelancong mulai mempertimbangkan pengeluaran dengan lebih cermat. Mereka ingin menikmati pengalaman yang berkesan tanpa harus menghabiskan uang untuk setiap kebutuhan perjalanan.
Saya melihat tren ini sebagai perubahan menarik dalam cara orang merencanakan liburan. Perjalanan bukan lagi sekadar mengunjungi banyak tempat atau mencari harga paling murah. Sebaliknya, wisatawan mulai memprioritaskan pengalaman yang benar-benar mereka inginkan.
Menurut laporan Travel Trends 2027 dari Skyscanner, wisatawan Korea Selatan tidak menunjukkan rencana untuk mengurangi anggaran perjalanan mereka. Mereka justru ingin mengatur pengeluaran secara lebih bijak. Dengan cara tersebut, mereka tetap bisa menikmati liburan sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuan finansial.
Minat Liburan Tetap Tinggi pada 2027
Survei terhadap 1.000 wisatawan Korea Selatan memperlihatkan bahwa minat bepergian masih kuat. Sebanyak 80% responden berencana melakukan perjalanan dengan jumlah yang sama atau lebih banyak dibandingkan 2026. Angka ini menunjukkan bahwa liburan tetap menjadi bagian penting dalam rencana mereka.
Selain itu, 73% responden berencana mengeluarkan dana yang sama atau lebih besar untuk tiket pesawat. Sementara itu, 68% memiliki rencana serupa untuk akomodasi. Data tersebut menggambarkan bahwa wisatawan masih bersedia mengalokasikan anggaran besar untuk kebutuhan utama perjalanan.
Namun, mereka tidak ingin mengeluarkan uang tanpa pertimbangan. Para pelancong mulai memilah pengeluaran berdasarkan nilai pengalaman yang mereka dapatkan. Misalnya, mereka mungkin memilih penginapan dengan fasilitas sesuai kebutuhan, lalu mengalokasikan dana lebih besar untuk kegiatan yang paling menarik.
Pakar perjalanan Skyscanner, Jessica Min, menjelaskan bahwa wisatawan tidak hanya mencari pilihan termurah. Mereka ingin menggunakan anggaran secara lebih bijak demi mendapatkan pengalaman yang berkesan. Skyscanner merangkum kecenderungan tersebut melalui tema Travel Better Spent.
Jessica menyampaikan pandangan itu seperti dikutip The Korea Herald pada Kamis (22/10/2026). Menurutnya, wisatawan perlu menentukan pengalaman yang layak mendapat investasi lebih besar. Pada saat yang sama, mereka dapat mengurangi pengeluaran lain dan berbelanja secara lebih cermat.
Berburu Produk Khas dan Menikmati Gym-cation
Salah satu tren yang menarik perhatian adalah perjalanan untuk mencari produk khas suatu destinasi. Wisatawan tidak hanya berburu suvenir biasa. Mereka juga tertarik membeli barang eksklusif atau produk yang hanya tersedia di toko tertentu.
Jessica Min menyebutkan bahwa 61% responden, yang didominasi generasi Z dan milenial, pernah mengunjungi suatu destinasi demi memperoleh barang yang hanya tersedia di lokasi tersebut. Dengan demikian, pengalaman berbelanja juga dapat menjadi alasan utama seseorang memilih tujuan perjalanan.
Di sisi lain, tren gym-cation memperlihatkan bahwa sebagian wisatawan ingin tetap menjaga kebugaran selama berlibur. Sebanyak 31% responden mempertimbangkan fasilitas kebugaran ketika memilih penginapan. Mereka ingin menikmati suasana baru tanpa harus meninggalkan rutinitas olahraga.
Menurut saya, tren tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan wisatawan semakin beragam. Sebagian orang mencari pengalaman belanja yang unik, sedangkan lainnya mengutamakan kesehatan dan kenyamanan. Karena itu, penyedia jasa perjalanan perlu memahami minat pelanggan sebelum menawarkan paket wisata.
Nilai Tukar Mata Uang Memengaruhi Pilihan Destinasi
Faktor ekonomi juga memengaruhi keputusan perjalanan. Sebanyak 54% responden mengaku pernah mengganti tujuan wisata demi memperoleh keuntungan dari nilai tukar mata uang yang lebih murah. Artinya, wisatawan tetap memperhatikan biaya meskipun mereka tidak berencana memangkas anggaran liburan secara keseluruhan.
Jessica Min menjelaskan bahwa Jepang menjadi salah satu tujuan yang menarik perhatian wisatawan Korea Selatan. Nilai yen yang lemah mendorong banyak pelancong menjelajahi kota-kota kecil di negara tersebut. Situasi ini memperlihatkan bagaimana kondisi mata uang dapat memengaruhi pilihan destinasi.
Bagi saya, pertimbangan seperti ini cukup masuk akal. Wisatawan dapat mempertahankan rencana liburan sekaligus mencari nilai terbaik dari uang yang mereka keluarkan. Namun, mereka tetap perlu memperhitungkan biaya transportasi, penginapan, makanan, dan aktivitas selama perjalanan.
Liburan Tanpa Gawai dan Pengalaman Budaya
Selain mengejar pengalaman baru, sebagian wisatawan ingin mengurangi penggunaan perangkat elektronik. Sebanyak 35% responden ingin mengurangi ketergantungan pada ponsel pintar dan laptop selama liburan. Mereka ingin lebih fokus menikmati alam, budaya, serta suasana di tempat yang dikunjungi.
Menurut saya, keinginan tersebut mengingatkan kita pada tujuan sederhana dari sebuah perjalanan. Liburan memberi kesempatan untuk beristirahat dari kesibukan sehari-hari. Dengan membatasi waktu di depan layar, wisatawan dapat memberikan perhatian lebih besar kepada lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Pengalaman budaya juga tetap menarik minat pelancong. Sebanyak 24% responden tertarik menikmati musik di tempat lokal yang memiliki karakter khas. Pengalaman seperti ini memungkinkan wisatawan mengenal suasana setempat melalui pertunjukan dan ekspresi budaya.
Sementara itu, 34% responden mempertimbangkan destinasi bersejarah, termasuk tempat dengan arsitektur bersejarah. Sebanyak 35% lainnya tertarik pada kisah tokoh sejarah. Data tersebut menunjukkan bahwa cerita dan warisan masa lalu masih berperan penting dalam membentuk pilihan perjalanan.
Tren perjalanan untuk merayakan momen romantis juga muncul dalam laporan tersebut. Sebanyak 31% pelancong pernah mempertimbangkan beberapa perjalanan singkat untuk merayakan bulan madu, mulai dari setelah pernikahan hingga hari jadi pernikahan. Dengan pendekatan ini, pasangan dapat menciptakan pengalaman bersama dalam beberapa kesempatan.
Hakodate Mencuri Perhatian Wisatawan
Dalam laporan Travel Trends 2027, Hakodate di Jepang mencatat kenaikan pencarian penerbangan pulang-pergi tertinggi dari Korea Selatan. Pencarian untuk perjalanan pada periode 1 Januari hingga 17 Juni meningkat 443% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Selain Hakodate, Luksemburg dan Quy Nhon di Vietnam juga masuk dalam daftar destinasi dengan peningkatan pencarian. Ketiga tempat tersebut menunjukkan bahwa minat wisatawan dapat menjangkau beragam wilayah, mulai dari kota di Jepang hingga tujuan di Eropa dan Asia Tenggara.
Namun, kenaikan pencarian tidak selalu berarti jumlah kunjungan meningkat dalam persentase yang sama. Data tersebut menggambarkan perubahan minat dalam mencari penerbangan. Meskipun begitu, informasi ini tetap memberi gambaran tentang destinasi yang mulai menarik perhatian wisatawan Korea Selatan.
Kecerdasan Buatan Membantu Merencanakan Perjalanan
Teknologi kecerdasan buatan atau AI juga mulai berperan dalam perencanaan liburan. Sebanyak 61% wisatawan Korea Selatan mengaku percaya diri menggunakan AI untuk merencanakan dan memesan perjalanan. Mereka memanfaatkan teknologi ini untuk membandingkan harga, mencari pilihan perjalanan, hingga menyusun rencana liburan.
Menurut saya, penggunaan AI dapat membantu wisatawan menghemat waktu ketika mengumpulkan informasi. Mereka bisa membandingkan beberapa pilihan sebelum menentukan tujuan. Meski demikian, wisatawan tetap perlu memeriksa jadwal, harga, ketentuan pemesanan, dan informasi resmi sebelum melakukan pembayaran.
Kehadiran teknologi tersebut juga memperlihatkan perubahan cara orang mempersiapkan perjalanan. Wisatawan kini dapat menggabungkan riset digital dengan pengalaman langsung di destinasi. Dengan demikian, perencanaan yang praktis tetap bisa berjalan seiring dengan keinginan untuk menikmati perjalanan secara lebih mendalam.
Pelajaran dari Tren Wisata 2027
Dari berbagai tren tersebut, saya melihat bahwa liburan yang bermakna tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Wisatawan perlu memahami pengalaman apa yang paling penting bagi mereka. Setelah itu, mereka dapat menentukan bagian pengeluaran yang perlu mendapat prioritas.
Misalnya, pencinta budaya dapat mengalokasikan dana untuk pertunjukan musik lokal atau kunjungan ke tempat bersejarah. Sementara itu, wisatawan yang menjaga kebugaran dapat memilih penginapan dengan fasilitas olahraga. Bagi pencinta belanja, mencari produk khas suatu tempat juga dapat menjadi bagian utama perjalanan.
Di sisi lain, perencanaan yang baik tetap membutuhkan pertimbangan biaya. Wisatawan perlu membandingkan harga tiket, penginapan, dan transportasi. Mereka juga sebaiknya memperhitungkan nilai tukar mata uang serta menyisihkan dana untuk kebutuhan tak terduga.
Bagi pelaku industri pariwisata, tren ini membuka peluang untuk menawarkan pengalaman yang lebih sesuai dengan minat pelanggan. Paket wisata dapat menggabungkan kegiatan budaya, wisata alam, kuliner, belanja, atau aktivitas kebugaran. Namun, penyedia perjalanan perlu menjelaskan fasilitas dan biaya secara transparan agar pelanggan bisa menentukan pilihan dengan nyaman.
Kesimpulan
Tren wisatawan Korea Selatan pada 2027 memperlihatkan bahwa minat liburan tetap tinggi. Namun, para pelancong semakin selektif dalam menentukan tujuan, memilih akomodasi, dan mengatur pengeluaran. Mereka ingin mendapatkan pengalaman yang sepadan dengan uang, waktu, serta tenaga yang mereka keluarkan.
Mulai dari berburu produk khas, gym-cation, menikmati budaya lokal, hingga memanfaatkan AI, wisatawan menunjukkan kebutuhan yang semakin beragam. Oleh karena itu, perjalanan masa depan tidak hanya berfokus pada banyaknya destinasi. Pengalaman yang sesuai dengan minat pribadi justru menjadi bagian penting dari liburan yang memuaskan.
FAQ Seputar Tren Wisatawan Korea Selatan 2027
1. Apakah wisatawan Korea Selatan berencana mengurangi anggaran liburan pada 2027?
Tidak menurut laporan Travel Trends 2027 dari Skyscanner. Wisatawan cenderung mempertahankan atau meningkatkan anggaran, tetapi mereka ingin menggunakannya secara lebih bijak.
2. Apa yang dimaksud dengan gym-cation?
Gym-cation merupakan konsep liburan yang tetap memberi ruang bagi rutinitas olahraga. Wisatawan mempertimbangkan fasilitas kebugaran ketika memilih penginapan.
3. Mengapa wisatawan Korea Selatan tertarik bepergian ke Jepang?
Salah satu alasannya adalah nilai yen yang lemah. Kondisi tersebut membuat perjalanan ke Jepang menarik bagi sebagian wisatawan Korea Selatan, termasuk mereka yang ingin menjelajahi kota-kota kecil.
4. Destinasi apa yang mencatat kenaikan pencarian penerbangan tertinggi?
Hakodate di Jepang mencatat kenaikan pencarian penerbangan pulang-pergi tertinggi dari Korea Selatan dalam laporan tersebut. Pencarian untuk periode 1 Januari hingga 17 Juni meningkat 443% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
5. Bagaimana wisatawan menggunakan AI untuk merencanakan liburan?
Wisatawan memanfaatkan AI untuk membandingkan harga, mencari pilihan perjalanan, dan menyusun rencana liburan. Mereka tetap perlu memeriksa informasi resmi sebelum memesan tiket atau akomodasi.



