Delapantour.com – Denpasar, Bali, saya kembali mencermati perkembangan pariwisata Bali yang selalu menarik perhatian wisatawan. Kali ini, perhatian saya tertuju pada data kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman Bali yang mengalami penurunan 1,62 persen hingga Agustus 2026.
Saya melihat angka tersebut cukup menarik karena Bali selama ini menjadi salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia. Namun, penurunan itu tidak berarti aktivitas pariwisata Bali berhenti. Justru, data tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perjalanan wisatawan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Bali menerima 4.586.959 kunjungan wisman sepanjang Januari-Agustus 2026. Jumlah itu turun 1,62 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 4.662.720 kunjungan.
Mencermati Penurunan Kunjungan Wisman Bali
Ketika saya melihat angka tersebut, saya tidak langsung menganggap Bali kehilangan daya tarik. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai gambaran bahwa perjalanan internasional sangat bergantung pada banyak faktor.
Menurut penjelasan Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan, kalender liburan di negara asal wisatawan ikut memengaruhi pola kedatangan. Misalnya, masa liburan sekolah Australia telah berakhir pada Agustus, sedangkan Prancis masih memasuki masa liburan musim panas.
Selain itu, hampir seluruh kedatangan wisman pada Agustus melalui jalur udara. BPS mencatat 685.956 kunjungan melalui jalur udara dan 38 kunjungan melalui pintu masuk laut.
Bagi saya, data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan wisatawan tetap sangat kuat, meskipun angka kumulatif delapan bulan belum menyamai tahun sebelumnya. Karena itu, saya melihat perkembangan ini sebagai dinamika yang perlu dicermati, bukan sekadar angka penurunan.
Australia Masih Menjadi Pasar Utama Bali
Selanjutnya, saya melihat satu hal yang tetap konsisten. Australia masih menjadi negara penyumbang wisman terbesar ke Bali.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, wisatawan pemegang paspor Australia mencatat 1.138.634 kunjungan. Jumlah tersebut bahkan meningkat 7,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Tiongkok menyumbang 401.762 kunjungan dan tumbuh 6,04 persen. Kemudian, India mencatat 352.510 kunjungan, Inggris 202.759 kunjungan, dan Korea Selatan 191.386 kunjungan.
Pada Agustus saja, Australia kembali menempati posisi pertama dengan 161.258 kunjungan. Setelah itu, Tiongkok menyumbang 57.613 kunjungan, Prancis 41.937, India 34.830, dan Inggris 32.928 kunjungan.
Menariknya, wisatawan Prancis menyalip India dan menempati posisi ketiga pada Agustus. Selain itu, wisatawan asal Italia mencatat pertumbuhan bulanan tertinggi dari 10 negara utama, yakni 155,99 persen dibandingkan Juli.
Wisatawan Nusantara Justru Mengalami Pertumbuhan
Di sisi lain, saya menemukan perkembangan yang cukup menarik dari pasar domestik. Saat kunjungan wisman Bali turun secara kumulatif, perjalanan wisatawan nusantara menuju Bali justru mengalami pertumbuhan.
BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Bali mencapai 18.155.881 perjalanan sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 2,15 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari perjalanan intraprovinsi. Pergerakan wisatawan di dalam wilayah Bali naik 5,04 persen, dari 13.850.754 perjalanan menjadi 14.548.178 perjalanan.
Namun, perjalanan wisatawan dari luar Bali justru turun 8,05 persen. Perjalanan interprovinsi tersebut turun dari 3.923.479 perjalanan pada Januari-Agustus 2025 menjadi 3.607.703 perjalanan pada periode yang sama 2026.
Menurut saya, perbedaan ini memberikan gambaran bahwa pasar domestik tetap memiliki peran penting. Karena itu, pelaku pariwisata dapat melihat wisatawan nusantara sebagai salah satu kekuatan untuk menjaga aktivitas perjalanan di Bali.
Pengalaman Mencermati Kondisi Akomodasi Bali
Selain jumlah kunjungan, saya juga mencermati kondisi akomodasi. Data Agustus menunjukkan tingkat penghunian kamar atau TPK hotel berbintang mencapai 68,19 persen.
Angka tersebut naik 0,90 poin dibandingkan Juli yang mencapai 67,29 persen. Namun, jika dibandingkan Agustus 2025, TPK hotel berbintang masih turun 1,34 poin persentase dari 69,54 persen.
Sementara itu, hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencatat TPK 43,16 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut memang naik tipis 0,63 poin dari Juli, tetapi masih turun 7,10 poin dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 50,26 persen.
Saya juga melihat perubahan pada lama tinggal wisatawan. Rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang mencapai 2,77 malam pada Agustus 2026, turun dari 2,83 malam pada Juli dan turun 0,14 poin dibandingkan Agustus 2025.
Dengan demikian, jumlah wisatawan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Lama tinggal dan tingkat hunian juga memberikan gambaran tentang seberapa besar aktivitas wisatawan berdampak pada sektor akomodasi.
Pelajaran yang Saya Dapat dari Data Pariwisata Bali
Dari pengalaman mencermati data tersebut, saya mendapatkan satu pelajaran penting. Angka kunjungan wisatawan tidak selalu bergerak dalam satu arah pada setiap pasar.
Wisman mengalami penurunan secara kumulatif, tetapi beberapa negara justru menunjukkan pertumbuhan. Australia dan Tiongkok, misalnya, tetap mencatat peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, pasar domestik juga memperlihatkan pertumbuhan secara keseluruhan. Karena itu, saya melihat Bali masih memiliki fondasi pariwisata yang kuat meskipun menghadapi perubahan pola perjalanan.
Saya juga belajar bahwa kalender liburan negara asal wisatawan dapat memengaruhi angka kedatangan. Oleh sebab itu, perubahan bulanan tidak selalu mencerminkan kondisi pariwisata secara keseluruhan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, pengalaman saya mencermati perkembangan pariwisata Bali menunjukkan bahwa penurunan 1,62 persen perlu dilihat secara menyeluruh. Sepanjang Januari-Agustus 2026, Bali mencatat 4.586.959 kunjungan wisman, lebih rendah dibandingkan 4.662.720 kunjungan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, Bali tetap memiliki pasar utama yang kuat. Australia masih memimpin, sementara Tiongkok, India, Inggris, dan Korea Selatan juga memberikan kontribusi besar. Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara justru tumbuh 2,15 persen.
Menurut saya, data ini memperlihatkan bahwa pariwisata Bali terus bergerak mengikuti perubahan perilaku wisatawan. Karena itu, perkembangan pada bulan-bulan berikutnya akan menarik untuk dicermati, terutama apakah kunjungan wisman mampu kembali melampaui capaian tahun sebelumnya.
FAQ Seputar Kunjungan Wisman Bali
Berapa jumlah kunjungan wisman Bali hingga Agustus 2026?
Bali mencatat 4.586.959 kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari-Agustus 2026.
Berapa penurunan kunjungan wisman Bali?
Kunjungan wisman Bali turun 1,62 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.
Negara mana yang menjadi penyumbang wisman terbesar?
Australia menjadi penyumbang terbesar dengan 1.138.634 kunjungan sepanjang Januari-Agustus 2026.
Bagaimana perkembangan wisatawan nusantara ke Bali?
Perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Bali mencapai 18.155.881 perjalanan dan tumbuh 2,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.




