DelapanTour.com – Lampung Barat, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melantik dan mengukuhkan 20 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam jabatan pimpinan tinggi pratama, administrator, dan pengawas di lingkungan pemerintahan daerah. Salah satu nama yang masuk dalam jajaran pejabat tersebut ialah Syafaruddin, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo).
Selain menjalankan tugas pemerintahan, Syafaruddin juga menempuh pendidikan doktoral. Ia tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi S3 Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lampung (Unila), angkatan 2025.
Menariknya, Syafaruddin telah melaksanakan seminar proposal disertasi dengan mengangkat tema kepemimpinan transformasional kepala daerah berbasis Piil Pesenggiri. Penelitian tersebut berfokus pada dukungan kepemimpinan daerah terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada bidang pendidikan di Lampung Barat.
Keterlibatan Syafaruddin dalam pemerintahan dan pendidikan tinggi mempertemukan dua bidang yang saling berkaitan. Di satu sisi, pejabat daerah memiliki tanggung jawab menjalankan kebijakan publik. Di sisi lain, penelitian akademik dapat membantu memperdalam pemahaman tentang kepemimpinan, nilai budaya lokal, dan pembangunan pendidikan.
Pemkab Lampung Barat Lantik 20 PNS
Pelantikan dan pengukuhan 20 PNS tersebut mencakup sejumlah jenjang jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Jabatan pimpinan tinggi pratama, administrator, dan pengawas memiliki fungsi berbeda dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan.
Secara umum, pejabat pimpinan tinggi pratama berperan memimpin perangkat daerah dan menerjemahkan kebijakan menjadi program kerja. Sementara itu, pejabat administrator mengoordinasikan pelaksanaan program dan kegiatan. Adapun pejabat pengawas bertugas memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan dan target organisasi.
Karena itu, penempatan pejabat pada berbagai jenjang tersebut menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan daerah. Setiap pejabat perlu menjalankan tugas secara profesional, menjaga akuntabilitas, serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Syafaruddin menjadi salah satu nama yang mendapat perhatian karena posisinya sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika. Peran dinas tersebut berkaitan dengan pengelolaan informasi pemerintahan, komunikasi publik, serta dukungan terhadap penyebarluasan informasi kepada masyarakat.
Namun, informasi yang tersedia belum merinci tanggal pelantikan, daftar lengkap 20 pejabat, maupun susunan jabatan masing-masing. Oleh karena itu, rincian tersebut memerlukan konfirmasi melalui keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Lampung Barat.
Syafaruddin Menempuh Pendidikan Doktoral di Unila
Di tengah tanggung jawabnya sebagai pejabat daerah, Syafaruddin tercatat sebagai mahasiswa aktif Program Studi S3 Pendidikan FKIP Universitas Lampung angkatan 2025. Pendidikan doktoral tersebut memberinya ruang untuk mendalami persoalan kepemimpinan dan pendidikan melalui pendekatan akademik.
Salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademiknya ialah seminar proposal disertasi. Dalam tahap ini, mahasiswa memaparkan rencana penelitian untuk memperoleh masukan akademik sebelum melanjutkan penelitian secara lebih mendalam.
Syafaruddin mengangkat judul disertasi “Kepemimpinan Transformasional Kepala Daerah Berbasis Piil Pesenggiri dalam Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Bidang Pendidikan: Studi Fenomenologi di Lampung Barat”. Judul tersebut memperlihatkan perhatian terhadap hubungan antara gaya kepemimpinan, nilai budaya Lampung, dan pembangunan pendidikan.
Melalui penelitian tersebut, Syafaruddin menempatkan kepemimpinan transformasional sebagai salah satu perspektif untuk memahami peran kepala daerah. Perspektif ini menyoroti kemampuan pemimpin dalam membangun visi, mendorong perubahan, menggerakkan organisasi, dan mengajak berbagai pihak mencapai tujuan bersama.
Meski demikian, seminar proposal merupakan tahap perencanaan penelitian. Hasil akhir, temuan lapangan, dan kesimpulan disertasi belum dapat dipastikan sebelum Syafaruddin menyelesaikan rangkaian penelitian dan analisis akademiknya.
Piil Pesenggiri Menjadi Landasan Budaya Penelitian
Piil Pesenggiri merupakan falsafah hidup masyarakat Lampung yang berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan perilaku yang menjunjung nilai luhur. Falsafah ini juga berkaitan dengan cara seseorang menjaga martabat serta membangun hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks kepemimpinan, nilai budaya lokal dapat menjadi sudut pandang untuk memahami perilaku pemimpin ketika mengambil keputusan dan menjalankan tanggung jawab. Namun, penerapannya membutuhkan penjelasan yang cermat agar nilai budaya tidak berhenti sebagai simbol, melainkan memiliki makna nyata dalam tata kelola pemerintahan.
Penelitian Syafaruddin menghubungkan Piil Pesenggiri dengan kepemimpinan transformasional kepala daerah. Hubungan tersebut membuka ruang kajian mengenai bagaimana nilai lokal dapat berjalan seiring dengan kebutuhan perubahan organisasi, pelayanan publik, dan peningkatan kualitas pendidikan.
Selain itu, pendekatan budaya lokal dapat membantu peneliti memahami pengalaman, pandangan, dan pemaknaan para pihak yang terlibat dalam kepemimpinan daerah. Hal ini relevan dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menggali pengalaman hidup dan perspektif orang-orang terkait suatu fenomena.
Dengan demikian, penelitian ini memiliki konteks lokal yang kuat karena berfokus pada Lampung Barat. Meski begitu, manfaat akademiknya akan bergantung pada ketajaman analisis, data lapangan, dan temuan yang nantinya muncul selama proses penelitian.
Kepemimpinan dan SDGs Bidang Pendidikan
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan agenda global yang mencakup berbagai sasaran pembangunan. Salah satu sasaran utamanya ialah SDG 4, yaitu menjamin pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang.
Dalam pelaksanaannya, pembangunan pendidikan memerlukan dukungan kebijakan, pengelolaan anggaran, kualitas tenaga pendidik, sarana pembelajaran, dan akses pendidikan yang merata. Pemerintah daerah juga berperan menyesuaikan program dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi wilayahnya.
Karena itu, kepemimpinan kepala daerah menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diteliti. Pemimpin daerah dapat mendorong koordinasi lintas perangkat daerah, membangun kerja sama dengan pemangku kepentingan, dan mengarahkan program agar selaras dengan kebutuhan pendidikan.
Namun, kepemimpinan saja tidak cukup untuk menjamin tercapainya target pembangunan. Pemerintah tetap memerlukan perencanaan yang terukur, dukungan sumber daya, pelaksanaan program yang konsisten, serta evaluasi berdasarkan data.
Penelitian Syafaruddin berpotensi memperkaya diskusi mengenai peran kepemimpinan dalam pembangunan pendidikan di tingkat daerah. Akan tetapi, penilaian mengenai kontribusi Piil Pesenggiri terhadap pencapaian SDGs perlu menunggu hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Perpaduan Tugas Pemerintahan dan Pengembangan Ilmu
Keterlibatan Syafaruddin dalam pemerintahan dan pendidikan doktoral menunjukkan keterhubungan antara praktik administrasi publik dan pengembangan ilmu pengetahuan. Pengalaman menjalankan tugas pemerintahan dapat menjadi konteks yang relevan untuk memahami tantangan kepemimpinan, selama penelitian tetap mengikuti prinsip akademik dan etika yang berlaku.
Di sisi lain, pendidikan doktoral menuntut mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menguji gagasan, serta menyusun analisis berdasarkan bukti. Proses tersebut dapat memperluas pemahaman tentang persoalan publik, termasuk tata kelola pemerintahan dan peningkatan mutu pendidikan.
Bagi Lampung Barat, kajian yang menghubungkan kepemimpinan dengan nilai budaya setempat juga relevan dalam pembahasan pembangunan daerah. Meskipun begitu, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu membedakan antara gagasan yang masih berada dalam tahap proposal dengan temuan yang telah melalui penelitian.
Pada akhirnya, pelantikan 20 PNS menjadi bagian dari dinamika penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Lampung Barat. Sementara itu, perjalanan akademik Syafaruddin melalui seminar proposal disertasi menghadirkan perhatian terhadap kajian kepemimpinan transformasional, falsafah Piil Pesenggiri, dan pencapaian SDGs bidang pendidikan.
Kedua hal tersebut memiliki konteks masing-masing, tetapi sama-sama berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas pengelolaan organisasi dan pembangunan daerah. Hasil penelitian Syafaruddin nantinya dapat memberikan kontribusi akademik apabila mampu menyajikan temuan yang kuat, relevan, dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan serta tata kelola pemerintahan.
