DelapanTour.comDelapanTour.com
Pendidikan
Beranda » Blog » Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila Teguhkan Kiprah Nasional

Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila Teguhkan Kiprah Nasional

YOGYAKARTA–SEMARANGDelapanTour.com, Yogyakarta–Semarang – Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila menunjukkan kiprah nasional melalui rangkaian benchmarking dan Temu Collegial Teknologi Pendidikan se-Indonesia pada 5–8 Agustus 2026.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan program studi tidak cukup dilakukan dari dalam kampus. Pertukaran pengalaman dengan perguruan tinggi lain menjadi kebutuhan penting untuk membaca perubahan pendidikan secara lebih luas.

Menurut saya, langkah Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila patut dilihat sebagai strategi akademik. Kegiatan ini bukan sekadar agenda kunjungan atau pertemuan kolegial. Di dalamnya terdapat upaya membangun standar, memperluas jejaring, dan menyiapkan program studi menghadapi perubahan teknologi.

Kehadiran dosen dan mahasiswa dalam forum nasional juga menunjukkan bahwa teknologi pendidikan membutuhkan ekosistem kolaboratif. Perkembangan Artificial Intelligence, pembelajaran digital, serta teknologi imersif tidak dapat dijawab oleh satu perguruan tinggi saja.

Benchmarking Menjadi Cermin untuk Memperbaiki Program Studi

Benchmarking ke Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta menjadi agenda awal rangkaian kegiatan. Pertemuan tersebut berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Delegasi FKIP Unila dipimpin Koordinator Program Studi Magister Teknologi Pendidikan, Dr. Ir. Rangga Firdaus, S.Kom., M.Kom. Delegasi juga didampingi Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan Kerja Sama, Dr. H. Riswandi, M.Pd., serta Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Unila, Dr. Muhammad Nurwahidin, M.Ag., M.Si.

Dosen dan mahasiswa aktif angkatan 2025, baik reguler maupun Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), turut mengikuti kegiatan tersebut. Komposisi ini penting karena pengembangan program studi seharusnya melibatkan berbagai unsur akademik.

Dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan FIP UNY, delegasi membahas berbagai praktik pengelolaan program studi. Pembahasan tersebut mencakup kurikulum, penelitian, publikasi, mutu akademik, hingga inovasi pembelajaran.

Bagi sebuah program studi, benchmarking dapat menjadi alat evaluasi yang objektif. Perguruan tinggi dapat melihat kelebihan dan kekurangan melalui pengalaman institusi lain.

Namun, benchmarking tidak seharusnya berhenti pada kegiatan membandingkan. Hasil pertemuan perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing institusi.

Teknologi Pendidikan Harus Adaptif terhadap Perubahan

Salah satu isu penting dalam pertemuan di Yogyakarta adalah Outcome-Based Education atau OBE. Pendekatan ini menempatkan capaian pembelajaran sebagai salah satu fokus utama proses pendidikan.

Penyelarasan profil lulusan dan capaian pembelajaran juga menjadi pembahasan. Hal tersebut penting agar kompetensi lulusan benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan perkembangan teknologi.

Selain itu, diskusi menyentuh pemanfaatan Artificial Intelligence, Extended Reality, serta Open Distance Learning. Ketiganya menawarkan peluang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan adaptif.

Meski begitu, pemanfaatan teknologi tidak boleh dilakukan hanya karena mengikuti tren. Teknologi harus memiliki tujuan pendidikan yang jelas.

AI, misalnya, dapat membantu proses pembelajaran dan penelitian. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan etika, literasi digital, serta kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, pengembangan teknologi pendidikan perlu menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai kemanusiaan. Teknologi merupakan alat, sedangkan tujuan akhirnya tetap meningkatkan kualitas pembelajaran.

Temu Collegial Memperkuat Jejaring Nasional

Setelah agenda benchmarking, delegasi FKIP Unila melanjutkan kegiatan ke Semarang. Pada 6–8 Agustus 2026, mereka mengikuti Temu Collegial APS-TPI ke-11 dan Konferensi Internasional ke-2 IPTPI.

Forum tersebut mempertemukan sekitar 210 pakar teknologi pendidikan. Peserta berasal dari guru besar, dosen, dan mahasiswa dari 33 perguruan tinggi di Indonesia.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan telah berkembang menjadi bidang keilmuan yang memiliki jejaring luas. Karena itu, kolaborasi antarkampus menjadi semakin penting.

Ketua APS-TPI, Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd., menyampaikan sejumlah agenda strategis. Agenda tersebut antara lain standardisasi kurikulum inti teknologi pendidikan, program mikrokredensial, penerbitan buku referensi, serta penguatan kolaborasi akreditasi dan jurnal internasional.

Menurut saya, agenda tersebut memiliki arti penting bagi masa depan program studi teknologi pendidikan. Standardisasi dapat memperkuat identitas keilmuan. Sementara itu, mikrokredensial dapat memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel bagi mahasiswa.

Di sisi lain, penguatan jurnal dan publikasi dapat meningkatkan visibilitas hasil penelitian. Hal ini menjadi penting ketika perguruan tinggi dituntut menghasilkan karya akademik yang semakin berkualitas.

Mahasiswa Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton

Salah satu hal yang menarik dari rangkaian kegiatan ini adalah keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga mengikuti coaching clinic dan kompetisi.

Coaching clinic menghadirkan lima pakar teknologi pendidikan dari sejumlah perguruan tinggi. Forum tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan, motivasi, dan masukan akademik.

Keterlibatan seperti ini perlu terus diperluas. Mahasiswa program magister seharusnya memiliki ruang untuk menguji gagasan dan menghasilkan karya.

Prestasi Nova Hastuti yang meraih Juara II kategori Essay menjadi salah satu bukti. Nelawati juga meraih Juara II kategori Video Microteaching.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki potensi untuk bersaing dalam forum akademik. Namun, prestasi tidak seharusnya berhenti sebagai pencapaian sesaat.

Prestasi perlu menjadi pintu untuk menghasilkan karya lanjutan. Artikel ilmiah, penelitian kolaboratif, produk pembelajaran, dan inovasi teknologi dapat menjadi bentuk keberlanjutannya.

Kiprah Nasional Perlu Diikuti Program Nyata

Koordinator Program Studi Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila, Dr. Rangga Firdaus, menilai benchmarking dan Temu Collegial sebagai ruang untuk belajar, berbagi, dan berkolaborasi.

Pandangan tersebut menurut saya merupakan arah yang tepat. Jejaring akademik akan memiliki nilai lebih besar jika menghasilkan kerja sama konkret.

Beberapa peluang tindak lanjut dapat diarahkan pada:

  • riset bersama antarperguruan tinggi;
  • publikasi ilmiah kolaboratif;
  • pertukaran dosen dan mahasiswa;
  • pengembangan program mikrokredensial;
  • penguatan pembelajaran berbasis teknologi;
  • pengembangan sumber belajar bersama;
  • kegiatan pengabdian kepada masyarakat;
  • peningkatan kualitas jurnal dan publikasi internasional.

Konsep resource sharing, knowledge sharing, dan value sharing juga relevan untuk dikembangkan. Perguruan tinggi tidak harus bekerja sendiri ketika menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

Kerja sama dapat mengurangi pengulangan sumber daya. Selain itu, pengalaman dan keahlian dari berbagai institusi dapat dipadukan untuk menghasilkan inovasi yang lebih kuat.

Penghargaan Menjadi Apresiasi atas Kontribusi

Rangkaian kegiatan di Semarang juga menghasilkan penghargaan bagi Dr. Ir. Rangga Firdaus, S.Kom., M.Kom. Ia menerima penghargaan sebagai salah satu dari 13 Tokoh Pendidikan Teknologi Pendidikan Tahun 2026 dari Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia.

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas kontribusi dalam pengembangan teknologi pendidikan di tingkat nasional. Namun, penghargaan sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab baru.

Seorang tokoh akademik tidak hanya dinilai dari penghargaan yang diterima. Kontribusi yang lebih penting terlihat dari dampak pengetahuan, penelitian, kebijakan, dan inovasi yang dihasilkan.

Karena itu, penghargaan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila. Kiprah individu dan kemajuan program studi idealnya berjalan beriringan.

Teknologi Harus Tetap Berpihak kepada Manusia

Kegiatan di Semarang juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan dimensi kemanusiaan. Kepala Brida Jawa Tengah, Drs. Mohammad Arief Irwanto, M.Si., menekankan pentingnya peran guru sebagai penanam nilai.

Pandangan tersebut relevan ketika AI dan teknologi digital semakin masuk ke ruang kelas. Kemudahan teknologi harus tetap disertai tanggung jawab.

Pembelajaran yang efektif bukan hanya pembelajaran yang menggunakan teknologi terbaru. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik.

Karena itu, teknologi pendidikan perlu mengutamakan inklusivitas. Teknologi seharusnya membantu memperluas akses pendidikan, termasuk bagi masyarakat di daerah yang memiliki keterbatasan.

Pada titik ini, teknologi pendidikan memiliki tanggung jawab sosial. Inovasi harus membawa manfaat nyata, bukan sekadar menghasilkan produk yang terlihat modern.

Kesimpulan

Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila telah menunjukkan kiprah nasional melalui benchmarking di UNY dan Temu Collegial APS-TPI di Semarang. Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan pembelajaran, jejaring, penelitian, inovasi, dan kolaborasi.

Namun, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada kehadiran dalam forum. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil diskusi menjadi program nyata.

Jika tindak lanjut berjalan konsisten, jejaring nasional dapat menjadi kekuatan penting bagi pengembangan program studi. Mahasiswa juga dapat memperoleh lebih banyak ruang untuk berkarya dan berkolaborasi.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi pendidikan membutuhkan kolaborasi. Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila memiliki peluang untuk memperkuat posisinya melalui karya akademik, inovasi pembelajaran, dan kerja sama yang berdampak bagi masyarakat.

FAQ

Apa tujuan benchmarking Magister Teknologi Pendidikan FKIP Unila?

Benchmarking bertujuan mempelajari praktik baik pengelolaan program studi. Kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan kerja sama akademik.

Mengapa Temu Collegial APS-TPI penting?

Temu Collegial menjadi ruang bertukar gagasan antarprogram studi teknologi pendidikan. Forum ini juga dapat memperkuat jejaring dan kolaborasi nasional.

Apa saja teknologi yang dibahas dalam kegiatan tersebut?

Pembahasan mencakup Artificial Intelligence, Extended Reality, Augmented Reality, Virtual Reality, dan Open Distance Learning.

Apa prestasi mahasiswa FKIP Unila dalam kegiatan tersebut?

Nova Hastuti meraih Juara II kategori Essay. Nelawati meraih Juara II kategori Video Microteaching.

Apa tindak lanjut yang diharapkan?

Tindak lanjut dapat berupa riset bersama, publikasi, mobilitas akademik, mikrokredensial, pengembangan pembelajaran, dan pengabdian masyarakat.

Apa makna penghargaan bagi Dr. Rangga Firdaus?

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pendidikan. Pada saat yang sama, penghargaan dapat menjadi dorongan untuk memperluas kontribusi akademik.

Bagikan

Cara Menghadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Waspada Abu Vulkanik

Cara Menghadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Waspada Abu Vulkanik

Kunjungi Artikel