Farizon SV vs Toyota HiAce: Siapa Paling Laris dan Unggul dari Segi Harga serta Fitur?

Bagikan artikel
WhatsApp Facebook

DelapanTour.com – Jakarta, persaingan kendaraan niaga untuk sektor travel dan pariwisata semakin menarik setelah Farizon SV memasuki pasar Indonesia. Kendaraan listrik ini hadir sebagai penantang Toyota HiAce yang selama ini menjadi pilihan populer untuk angkutan penumpang.

Farizon SV menawarkan teknologi kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Sementara itu, Toyota HiAce mempertahankan mesin diesel untuk memenuhi kebutuhan transportasi penumpang dan perjalanan jarak jauh.

Namun, dari segi penjualan, Toyota HiAce masih unggul jauh. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi Farizon SV sebanyak 140 unit pada Juni hingga September 2026. Sebaliknya, Toyota HiAce mencatat total penjualan 3.619 unit sepanjang Januari hingga September 2026.

Penjualan Farizon SV vs Toyota HiAce

Data penjualan menunjukkan perbedaan yang cukup besar antara kedua kendaraan tersebut. Toyota HiAce masih menguasai pasar berdasarkan angka distribusi yang tersedia, sedangkan Farizon SV mulai membangun kehadirannya di segmen kendaraan komersial listrik.

Toyota mencatat penjualan HiAce Premio sebanyak 1.786 unit sepanjang Januari hingga September 2026. Sementara itu, HiAce Commuter menyumbang 1.833 unit pada periode yang sama.

Dengan demikian, total penjualan kedua varian Toyota tersebut mencapai 3.619 unit. Angka ini menunjukkan bahwa HiAce masih memiliki posisi kuat di pasar kendaraan angkutan penumpang.

Di sisi lain, Farizon SV mencatat distribusi 140 unit selama empat bulan, yakni Juni hingga September 2026. Kendaraan listrik ini menyasar kebutuhan travel, shuttle antarkota, dan transportasi pariwisata yang mulai melirik teknologi elektrifikasi.

Meski angka penjualannya belum menyamai HiAce, Farizon SV menawarkan pendekatan berbeda melalui penggunaan energi listrik. Karena itu, persaingan keduanya tidak hanya berkaitan dengan jumlah penjualan, tetapi juga kebutuhan operasional dan pilihan teknologi.

Performa Mesin Diesel dan Motor Listrik

Dari sisi performa, Farizon SV mengandalkan motor listrik dengan daya maksimum 170 kW atau setara 228 dk. Motor tersebut menghasilkan torsi puncak 336 Nm untuk mendukung mobilitas kendaraan komersial.

Farizon SV menggunakan baterai berkapasitas 82,8 kWh dari Gotion. Dalam kondisi baterai terisi penuh, kendaraan ini mampu menempuh jarak hingga 400 kilometer berdasarkan spesifikasi yang tersedia.

Selain itu, Farizon SV mendukung pengisian daya cepat melalui konektor CCS2. Sistem pengisian DC berdaya 140 kW memungkinkan baterai terisi dari 20 persen menjadi 80 persen dalam waktu sekitar 36 menit.

Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan Farizon SV untuk operasional yang memiliki jadwal perjalanan terencana. Namun, pengelola travel tetap perlu memperhitungkan lokasi stasiun pengisian, waktu berhenti, kondisi jalan, dan kebutuhan jarak tempuh harian.

Sementara itu, Toyota HiAce Premio menggunakan mesin diesel 1GD-FTV berkapasitas 2.755 cc. Mesin direct injection tersebut menghasilkan tenaga 176,8 PS atau sekitar 174,3 dk pada 3.400 rpm, dengan torsi 419 Nm pada rentang 1.400–2.600 rpm.

Mesin HiAce Premio memenuhi regulasi emisi Euro 4. Kombinasi tenaga dan torsi tersebut mendukung kebutuhan kendaraan untuk mengangkut penumpang beserta barang bawaan dalam berbagai perjalanan.

Berbeda dengan Premio, Toyota HiAce Commuter memakai mesin diesel 1KD-FTV berkapasitas 2.982 cc. Mesin direct injection ini menghasilkan tenaga 136 PS atau sekitar 134 dk pada 3.400 rpm, serta torsi 300 Nm pada rentang 1.200–2.400 rpm.

Kedua varian HiAce memiliki tangki bahan bakar berkapasitas 70 liter. Oleh karena itu, pengelola armada dapat mempertimbangkan kapasitas bahan bakar, konsumsi solar, dan ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar saat menyusun rute perjalanan.

Perbandingan Fitur Keselamatan dan Kenyamanan

Toyota HiAce Commuter dan HiAce Premio menawarkan sejumlah fitur keselamatan untuk mendukung perjalanan penumpang. Keduanya memiliki sistem anti-lock braking system (ABS) dan brake assist yang membantu pengemudi saat melakukan pengereman.

Selain itu, Toyota membekali kedua varian tersebut dengan dual SRS airbag di kursi depan. Sabuk pengaman tiga titik dan port USB di setiap baris kursi juga mendukung kebutuhan penumpang selama perjalanan.

Fitur tersebut relevan bagi operator travel dan pariwisata yang mengutamakan kenyamanan penumpang. Terlebih lagi, port USB memudahkan wisatawan mengisi daya perangkat elektronik selama perjalanan.

Sementara itu, Farizon SV membawa desain dan teknologi yang berbeda. Kendaraan ini mengusung desain tanpa pilar B untuk memudahkan akses keluar-masuk penumpang.

Farizon SV juga memiliki pintu belakang tipe barn door yang memudahkan pengguna memasukkan dan mengeluarkan barang. Desain tersebut dapat membantu aktivitas operasional, terutama ketika kendaraan membawa banyak koper atau perlengkapan perjalanan.

Pada bagian kabin, Farizon SV menghadirkan head unit berukuran 12 inci yang mendukung Android Auto dan Apple CarPlay. Kendaraan ini juga memiliki electronic parking brake dengan auto hold untuk mendukung kemudahan berkendara.

Di sektor keselamatan, Farizon SV dilengkapi ABS dengan EBD atau CBC, tire pressure monitoring system (TPMS), dan automatic door locking. Selain itu, kendaraan ini menawarkan paket advanced driver assistance system (ADAS) dengan 30 fitur keselamatan.

Meski begitu, banyaknya fitur tidak otomatis menentukan kendaraan terbaik untuk semua operator. Pengelola armada perlu memeriksa fungsi setiap fitur, kebutuhan pengemudi, ketersediaan layanan purnajual, serta biaya perawatan dalam jangka panjang.

Perbandingan Harga Farizon SV dan Toyota HiAce

Harga menjadi faktor penting bagi pelaku usaha travel yang ingin membeli kendaraan baru. Berdasarkan daftar harga dalam bahan perbandingan ini, Farizon SV memiliki harga lebih tinggi daripada kedua varian Toyota HiAce.

  • Toyota HiAce Commuter: Rp575.400.000.
  • Toyota HiAce Premio: Rp678.800.000.
  • Farizon SV: Rp725.000.000.

Berdasarkan angka tersebut, Farizon SV memiliki selisih harga Rp149.600.000 dibandingkan HiAce Commuter. Sementara itu, selisih harganya dengan HiAce Premio mencapai Rp46.200.000.

Dari sisi harga pembelian, HiAce Commuter menawarkan pilihan paling terjangkau di antara ketiganya. HiAce Premio berada di posisi tengah, sedangkan Farizon SV menempati posisi tertinggi dalam daftar harga tersebut.

Namun, harga beli bukan satu-satunya faktor dalam menghitung biaya operasional. Kendaraan listrik berpotensi mengurangi kebutuhan bahan bakar cair, sedangkan kendaraan diesel memiliki kebutuhan pengeluaran untuk solar dan perawatan mesin pembakaran.

Karena itu, calon pembeli perlu membandingkan biaya energi, perawatan berkala, asuransi, pembiayaan, nilai jual kembali, serta kebutuhan infrastruktur pengisian daya. Perhitungan tersebut membantu operator menentukan biaya kepemilikan secara lebih menyeluruh.

Mana yang Lebih Cocok untuk Usaha Travel?

Toyota HiAce masih menjadi pilihan kuat bagi pelaku usaha yang mengutamakan model kendaraan dengan angka penjualan lebih tinggi. Data Gaikindo memperlihatkan bahwa Premio dan Commuter memiliki akumulasi penjualan yang jauh melampaui distribusi Farizon SV pada periode yang disebutkan.

Selain itu, pilihan mesin diesel pada HiAce dapat menjadi pertimbangan bagi operator yang menjalankan perjalanan antarkota dengan kebutuhan pengisian bahan bakar di sepanjang rute. Namun, calon pembeli tetap perlu memperhitungkan konsumsi solar dan biaya perawatan sesuai kondisi penggunaan.

Sebaliknya, Farizon SV menarik bagi operator yang ingin menjajaki penggunaan kendaraan listrik. Jarak tempuh hingga 400 kilometer dan kemampuan pengisian cepat menjadi spesifikasi penting untuk dipertimbangkan.

Meskipun begitu, operator perlu memastikan ketersediaan pengisian daya di pangkalan maupun sepanjang rute. Perusahaan juga perlu menyesuaikan jadwal perjalanan dengan waktu pengisian dan kebutuhan operasional harian.

Pada akhirnya, pilihan terbaik bergantung pada karakter bisnis. Operator dengan rute tetap dan akses pengisian daya yang memadai dapat mengevaluasi Farizon SV, sedangkan operator yang mengutamakan pilihan diesel dapat mempertimbangkan HiAce Commuter atau Premio.

Kesimpulan

Persaingan Farizon SV vs Toyota HiAce memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam industri kendaraan niaga penumpang. Farizon SV menawarkan motor listrik, baterai berkapasitas 82,8 kWh, jarak tempuh hingga 400 kilometer, dan fitur bantuan berkendara modern.

Sementara itu, Toyota HiAce masih unggul dalam angka penjualan berdasarkan data yang tersedia. HiAce juga menawarkan dua pilihan mesin diesel dengan spesifikasi berbeda, serta harga pembelian yang lebih rendah daripada Farizon SV.

Dengan demikian, Toyota HiAce menjadi pemimpin dari segi angka penjualan dalam perbandingan ini. Namun, Farizon SV menghadirkan alternatif kendaraan listrik bagi pelaku usaha yang ingin mengevaluasi teknologi baru untuk operasional travel dan pariwisata.

Calon pembeli sebaiknya tidak hanya melihat popularitas dan harga awal. Perhitungan biaya kepemilikan, kecocokan rute, kenyamanan penumpang, infrastruktur pengisian daya, serta layanan purnajual akan membantu menentukan kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Kategori:
JELAJAHI INDONESIA

Booking Paket Wisata

Sudah punya tujuan liburan? Ceritakan rencana perjalanan Anda dan tim kami akan membantu menyiapkan pilihan yang sesuai.

Booking sekarang
Wisata Wellness Yogyakarta, Pilihan Liburan untuk Relaksasi dan Menyegarkan Pikiran

Wisata Wellness Yogyakarta, Pilihan Liburan untuk Relaksasi dan Menyegarkan Pikiran

Kunjungi Artikel